Menyiasati Anak Sulit Belajar

Adib Setiawan, M.Psi - 2014-09-16 11:19:08
Adib Setiawan, M.Psi
 

Setiap anak memiliki potensi yang dibawa sejak lahir. Potensi tersebut menunjukan sebagai insan yang sempurna sebagai makhluk Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, manusia dikarunia akal budi untuk berfikir dan perasaan untuk merasakan sesuatu yang mungkin tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Tumbuh-tumbuhan dan hewan bisa tumbuh, mencari makanan, berkembang dan ukurannya selalu bertambah jika mendapatkan makanan yang cukup.

Hewan juga memiliki insting untuk bertindak menjaga diri. Atau beberapa hewan bisa dilatih melakukan rutinitas tertentu dengan menunjukan kemampuan insting yang lebih tinggi dari hewan lainnya. Contoh seperti anjing, lumba-lumba, kera dan lainnya. Mereka mampu dilatih padahal tidak memiliki kemampuan berfikir sehebat manusia.

Manusia sebenarnya memiliki potensi yang sama yaitu memiliki kecerdasan yang tinggi dan jika dioptimalkan mampu digunakan untuk berbagai hal termasuk menemukan sesuatu. Potensi kecerdasan seseorang anak dipengaruhi oleh faktor internal dimana semua cerdas dan kemudian prestasi anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau eksternal.

Seseorang anak akan tumbuh menjadi manusia yang cerdas. Namun, seringkali ada manusia atau seorang anak yang menjadi kesulitan belajar. Beberapa bukan hanya mengalami kesulitan belajar, namun juga mengalami gangguan perkembangan seperti tuna grahita dan autism. Atau juga gangguan perilaku seperti anak yang suka melawan dan gangguan perhatian dan hiperaktivitas.

Semua gangguan anak diatas termasuk penyebab kesulitan belajar disebabkan ketika anak di kandungan atau dua tahun pertama kelahiran. Yang sering terjadi adalah masyarakat kita mentoleransi hubungan pranikah yang seringkali mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup sehingga minum obat-obatan yang bisa menurunkan kecerdasan bayi saat di kandungan.

Selain itu ada juga karena kemiskinan, sehinggan Sang Ibu kurang asupan gizi saat mengandung anaknya. Ada juga karena Ibu merasa mau muntah dan tidak mau makan, sehingga janin di kandungan kekurangan suplai makanan dari Ibunya. Kurangnya pengetahuan Ibu dan juga kurangnya kesiapan keluarga dalam melahirkan anak, menjadi penyebab utama anak menjadi kesulitan belajar.

Sebab lain adalah anak panas tinggi di 2 tahun pertama kelahiran, sehingga anak mengalami kejang beberapa saat. Semakin lama kejangnnya dan juga sakitnya anak, maka tingkat kecerdasannya juga dapat turun. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua mengetahui bagaimana mengatasi anak yang panas dan juga merawat bayi secara tepat, sehingga masalah kesehatan bayi bisa dijaga.

Anak kemudian tumbuh bisa berjalan dan berbicara sekitar usia satu tahun tiga bulan. Mereka terus berkembang memberikan kebahagiaan kepada kedua orang tuanya. Kelucuan anak dan juga rasa ingin tahunya yang besar menyebabkan anak terus belajar. Para orang tua bisa mendeteksi anak akan kesulitan belajar bisa pada usia 1,5 tahun.

Jika anak mengalami keterlambatan berjalan maka ada kemungkinan juga kemampuan berfikirnya cenderung lambat jika dibandingkan oleh rekan-rekannya. Oleh sebab itu, perlu adanya simulasi dini melatih anak mampu melakukan aktivitas sesuai usianya. Jika anak belum bisa berjalan, maka ajarkan anak untuk bisa merangkak dan memiliki aktifitas fisik sehingga kemampuan motorik dan berpikirnya juga akan berkembang.

Langkah selanjutnya adalah jika anak juga terlambat dalam berbicara misalnya di usia 2 tahun, maka segera terapi dan dapatkan petunjuk-petunjuk professional. Seorang anak prinsipnya butuh bermain, berinteraksi dengan temannya dan juga mendapatkan arahan orang tua. Jangan terlalu protektif sehingga anak dilarang bermain dengan teman. Dengan bermain dengan teman, tentunya dengan pengawasan, membuat kecerdasan anak usia 2 tahun meningkat. Semakin banyak interaksi anak dengan anak lain dari usia 2 sampai 6 tahun, maka kecerdasan dan kemandirian anak sesuai dengan usianya akan meningkat.

Hal lain yang bisa diketahui adalah selain kapan anak bisa berjalan dan berbicara, yaitu sebaiknya orang tua aktif di posyandu untuk mengetahui perkembangan fisik motorik kemampuan berfikir, kemampuan bahasa, kemampuan emosional anak dan juga kemampuan interaksi sosial. Aspek-aspek ini memberi info bagaimana sebaiknya anak berkembang sesuai dengan usianya. Misalnya dengan melihat perkembangan anak di buku posyandu. Kapan anak bisa melompat, kapan anak bisa mengucapkan kata Mama, papa atau kapan anak bisa mengucapkan kalimat. Jika ada yang tidak sama atau kemampuannya ada yang belum dikuasai, maka latihlah sesuai petunjuk di buku tersebut.

Anak kemudian beranjak ke usia 4 dan 5 tahun. Pada usia ini anak masuk TK atau PAUD. Di sana akan terlihat perkembangannya. Barangkali apakah anak bisa mewarnai, menirukan bernyanyi atau kegiatan lainnya. Jika anak berkembang sesuai anak lainnya, maka anak secara umum tidak mengalami kesulitan.

Di usia 5 tahun apakah sudah bisa membuat lingkaran, segitiga atau segilima? Jika kesulitan, maka anak perlu latihan secara individu karena bisa jadi anak mengalami kesulitan belajar. Atau pada usia 4,5 tahun maka anak bisa diperiksakan tingkat kecerdasannya ke psikolog (bisa ke psikolog www.praktekpsikolog.com di bintaro, Jakarta Selatan), untuk mengetahui tingkat kecerdasannya. Sehingga bisa terdeteksi apakah anak mengalami kesulitan belajar atau tidak. Jika anak mengalami kesulitan belajar, maka solusi mengatasinya adalah anak belajar secara individu.

Anak membutuhkan pendampingan orang tua untuk belajar menguasai berbagai kemampuan dengan dilatih secara individu. Jangan lupa juga memastikan bahasa anak semakin banyak. Karena dengan bahasa yang banyak, membuat anak mampu berfikir dan juga menyelesaikan soal-soal akademik yang diberikan oleh guru kepada siswa.

Pada usia SD anak terus berkembang dan dan sebaiknya anak memiliki hal-hal yang dibanggakan. Apakah anak bagus dalam membaca, bagus dalam berhitung ? Bagus dalam bernyanyi, bagus dalam olahraga atau bagus dalam menari. Terus kembangkan minatnya. Dengan anak memiliki minat, maka anak merasa berharga dan kemudian menimbulkan rasa percaya diri. Semakin anak percaya diri, maka anak juga akan merasa berprestasi. Biasakan anak belajar secara rutin.

Sejad SD belajar satu jam setiap hari. Dengan belajar rutin, maka membuat anak ada rasa tanggungjawab. Selain itu, latih kemandirian sesuai usianya misalnya berlatih memakai baju sendiri, makan sendiri, bangun pagi tepat waktu dan dan juga menyiapkan buku untuk hari esok tanpa dibantu orang tuanya. Dengan melatih tanggungjawab pada anak, akan mengurangi dampak semakin buruknya kondisi kesulitan belajar anak.

Siswa yang kesulitan belajar tetapi dia tekun, mandiri, disiplin, tidak dimanja, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, terus dimotivasi, dan kemampuannya berkembang, kemudian diberikan pujian, maka membuat anak akan tampil menjadi pribadi yang menyenangkan yang akan sukses di kemudian hari. Sesulit apapun pelajaran, maka anak mampu mempelajarinya. Jika lumba-lumba bisa belajar padahal tidak memiliki akal budi, maka manusia jauh bisa belajar.

Bahkan anak-anak yang kesulitan belajar tetapi mau berusaha, maka bisa seperti Albeirt Einstein, Steve Job, Alexander Graham Bell. Mereka mampu menjadi penemu dan bisa mengubah dunia. Padahal mereka kesulitan belajar. Tentunya perlu ditemani oleh orang tua yang super sabar dan terus memotivasi anak dengan ketenangan tanpa ada unsur yang menyakiti anak baik fisik dan verbal. Ketidaksabaran orang tua dengan berkata-kata tidak tepat pada anak. Atau mencubit anak justru membuat anak tidak percaya diri dan menurunkan motivasi anak dalam belajar.


 
Index Berita
 
 

© 2020 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer