Stress Management Bagi Ibu Bekerja

Adib Setiawan, M.Psi - 2015-08-20 08:08:19
Adib Setiawan, M.Psi
 

TANYA :

Assalamu'alaikum Pak Adib. Saya ibu rumah tangga sekaligus wanita karier di suatu perusahaan, menjalani peran ganda ini tentunya stres tidak bisa dihindari. Bagaimana cara memanage stres agar tidak berbahaya untuk psikologis saya?

Marcety, Tangsel

JAWAB :

Waalaikumsalam Ibu Marcety. Me­mang saat ini kebanyakan seorang Ibu rumah tangga menjalani peran ganda sebagai wanita karier. Namun ada juga yang murni sebagai Ibu rumah tang­ga. Baik sebagai Ibu rumah tangga saja ataupun berperan ganda sebagai wanita karier sering kali seseorang mengalami tuntutan yang datang dari sekelilingnya. Tuntutan bisa datang dari harapan diri sendiri, orang lain, atasan ataupun anak dan juga pasangan. Ketika seseorang belum mampu memenuhi harapan ter­sebut tentunya menjadi sesuatu yang menekan atau sering kita sebut stres.

Stres kadangkala berdampak positif ketika mampu dikelola sehingga harapan yang belum dicapai kemudian tercapai. Namun, stres kadangkala berdampak ne­gatif jika ada gap terlalu besar antara ha­rapan dan kenyataan sehingga harapan­nya tidak tercapai. Harapan yang tidak tercapai terlalu banyak bisa menyebab­kan stres akut dan kadangkala bagi sese­orang yang tidak mampu mengelolanya atau me-manage bisa berdampak pada munculnya depresi. Depresi merupakan situasi stres yang menumpuk, tidak mampu dicapai, badan menjadi tidak sta­bil seperti biasa misalnya kurang makan, makan berlebih, tidak bisa tidur, sedih yang berlebihan, atau kadangkala tidak realistis menilai diri sendiri. Seseorang yang depresi kadangkala juga tidak se­mangat dan seolah-olah menjadi malas melakukan sesuatu.

Stres merupakan hal yang biasa.Yang penting bagaimana seseorang mampu mengatasi stres. Dari mana datangnya stres sebagai seorang Ibu rumah tangga yang menjalani peran ganda? Stres da­tang dari atasan, dari rekan kerja, dari tun­tutan kerja, dari pasangan, dari anak, dari lingkungan sekolah, dari pengasuh, dari mertua, atau orang lain. Seorang wanita berperan ganda dituntut mampu meng­asuh anak dan sekaligus menyelesaikan tugas di lingkungan kerjanya. Bagaima­na mengatasinya, tentunya disesuaikan dengan tingkat beban kerja, peran pa­sangan dan seberapa banyak waktu yang diluangkan ke anak.

Seorang wanita berperan ganda secara umum mampu bekerja dengan baik dan bekerja secara produktif. Hal ini karena dia sebelumnya bekerja sudah beberapa tahun, kemudian menikah dan selanjutnya memiliki anak. Masalah yang sering muncul adalah anak sakit. Ketika anda memiliki anak usia 0-2 tahun, seringkali anak mudah sakit. Anak sakit karena kadangkala sedang membangun daya tahan tubuh sehingga kadangkala anak suka panas. Bagaimana menangani anak yang sakit? Secara umum anak jika sakit misalnya flu, batuk, diare atau keseleo, bisa menyebabkan anak panas. Jika anak panas, segera berikan obat penurun panas. Salah satu orang tua, ibu atau ayah sebaiknya segera pulang ketika anak sakit dan pantau perkembangan anak sampai sembuh.

Selain mengatasi sakit pada anak co­balah untuk memaksimalkan waktu cuti untuk memberikan ASI eksklusif. Coba­lah memompa susu saat anak masih di bawah 1 tahun saat bekerja kemudian simpan dan berikan padanya. Dengan memberikan ASI daya tahan tubuh anak semakin baik. Pengasuhan anak ketika anda bekerja bisa dititipkan ke orang tua Anda, mertua, atau ke baby sitter yang profesional. Walaupun ada baby sitter tetap jika sakit panas, anda segera pu­lang. Anak sebaiknya juga mendapatkan imunisasi, rajin ke posyandu dan pantau perkembangan berat badan anak Anda. Jika Anda memastikan berat badan anak Anda, anak mau makan, dan anak berkembang selayaknya anak-anak lain, Anda akan tidak stres ketika bekerja kare­na anak telah tertangani.

Usia 2-4 tahun merupakan masa­-masa emas perkembangan anak Anda. Prinsipnya cobalah jangan memanjakan anak, dan latih anak ketrampilan sesuai usianya mulai dari ketrampilan melom­pat, bersepeda, bermain ayunan, ber­main prosotan, bermain bola, bermain boneka, bermain mobil-mobilan, mewar­nai, mengucapkan banyak kata, meng­ungkapkan keinginan, dan toilet training merupakan hal yang sangat penting.

Pada anak usia 5-7 tahun Anda ting­gal mengembangkan untuk menjadi pribadi yang menyenangkan bagi yang lainnya. Syaratnya adalah pada usia 2-4 tahun anak sudah mandiri sesuai usianya misalnya mampu makan sendiri, mampu pipis sendiri, memakai celana sendiri, dan mampu mengungkapkan diri.

Stres lainnya selain dari anak adalah dari pasangan. Kadangkala pasangan Anda belum siap menjadi ayah atau Ibu. Kadangkala dia juga mencari kesenangan pribadi atau dia berusaha mengatasi kebosanan hidup misalnya dengan 'hal yang kurang baik' dalam pergaulan. Se­ringkali rumah tangga seseorang diuji oleh kejadian tersebut. Kejadian tersebut bisa disebabkan karena pasangan merasa tertekan akibat pasangannya terlalu sibuk bekerja atau bisa juga karena tergoda oleh situasi di luar. Cobalah untuk terbuka dengan pasangan tentang pendapatan, keinginan ingin punya anak berapa, anak ingin sekolah di mana, ingin punya rumah di mana dan lain-lain. Jika ada masalah yang kecil bicarakan dan buat kesepakatan bersama. Luangkan waktu minimal seminggu 2 kali selama minimal 90 menit berbicara dari hati ke hati dengan pasangan Anda. Tanyakan keinginan pasangan Anda apa? Cobalah untuk memenuhinya. Jika belum bisa memenuhi jelaskan alasannya pasti pa­sangan Anda akan mengerti.

Tidak ada korelasi antara Ibu yang Pekerja dengan kesuksesan anak. Kesuk­sesan anak ditentukan oleh waktu orang tua untuk mendidik anak. Jika Anda seca­ra sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk anak, anak akan merasa bahagia dan dihargai. Kadangkala Ibu bekerja juga membuat anak lebih mandiri. Mi­salnya, anak terbiasa menyiapkan kebu­tuhan sendiri mulai kebutuhan sekolah, makan atau lainnya. Semakin komitmen keluarga kuat, kesuksesan dan masa depan anak semakin besar.

Tips

1. Cobalah untuk menyeimbangkan kepentingan pekerjaan dan keluarga.

2. Cobalah membaca artikel tentang pengasuhan dan motivasi kerja misalnya bagaimana mengasuh bayi, mengasuh anak atau menghadapi anak di usia re­maja. Sesuaikan dengan usia anak Anda.

3. Bangunlah fondasi keluarga de­ngan pasangan dengan menetapkan cita-cita ataupun harapan bersama mu­lai dari ingin punya anak berapa, ingin tinggal dimana, kapan ingin memiliki rumah, anak mau sekolah di mana, dan keinginan mau berlibur di mana. Sebaik­nya diskusikan secara bersama-sama dan jangan membuat keputusan sendiri pada masalah yang strategis.

4. Berusaha terbuka dengan pasang­an tentang pekerjaan dan penghasilan. Jika ada masalah di tempat kerja tidak ada salahnya bercerita ke pasangan se­panjang tidak melanggar rahasia peru­sahaan. Saling berikan dukungan pada pasangan Anda.

5. Meluangkan waktu minimal 2 kali seminggu minimal 90 menit untuk ber­bicara dari hati ke hati tentang keluarga.

6. Cobalah berbagi tugas dengan pasangan tentang pengasuhan anak.

7. Komunikasikan dengan pengasuh apa yang dilakukan anak jika anak sakit.

8. Jika anak sakit sebaiknya ayah atau Ibu izin tidak bekerja.

9. Jangan pulang terlalu malam dan sebaliknya pulanglah secepat mungkin dan selanjutnya luangkan waktu pada anak untuk berkomunikasi ataupun mengarahkan belajar anak.

10. Bekerjalah secara efektif, efisien, dan produktif. Productivitas kerja tidak tergantung berapa lama bekerja namun seberapa efektif Anda menyelesaikan tugas-tugas kerja.

11. Cobalah melihat kemampuan diri sendiri secara obyektif apakah sudah sesuai dengan penghargaan perusahaan atau belum.

12. Jadilah pribadi yang berkualitas dalam pekerjaan dan saat berkeluarga. Di pekerjaan jadilah orang yang menye­nangkan sehingga ketika Anda pindah perusahaan rekan kerja Anda merasa kehilangan. Di rumah cobalah menjadi orang tua yang dekat dengan anak dan selalu diingat oleh anak ketika mereka dewasa. Anak akan selalu mengingat pe­ran orang tua yang mengasuhnya.

13. Cobalah mengikuti kegiatan fa­mily gathering yang diadakan kantor pa­sangan. Jika tidak ada, cobalah mengenal beberapa rekan kerja pasangan misalnya dengan cara silaturahmi atau meminta pasangan menjemput saat pulang kerja.

14. Luangkan waktu saat anak pentas, mengambil raport anak, dan cobalai menumbuhkan keinginan anak. Misalnya anak ingin mengambil jurusan apa, co­balah diskusikan dan arahkan.

15. Jangan melakukan kekerasan fisik dan verbal pada anak dari usia bayi sam­pai dia dewasa. Hal ini membuat anak trauma dan anda akan semakin stres.

16. Mengasuh anak adalah suatu hal yang prioritas daripada Anda mencari kesenangan pribadi.

17. Bekerja sesuai kemampuan dan hobi. Pastikan pekerjaan yang Anda la­kukan anda senangi dan tidak terpaksa

18. Belajarlah bagaimana mengem­bangkan karir dan bagaimana berumah tangga dari lingkungan sekitar anda baik teman sekerja atau orang yang lebih tua.

19. Jangan mengumbar kesenangan pribadi yang bertentangan dengan se­mangat keluarga bahagia yang harmonis dan juga pekerjaan Anda.

20. Upayakan anak Anda mau ber­cerita pada anda sehingga anak terbebas dari masalah ketika di usia remaja.


ESQ Life | Edisi 12 | Tahun II | Agustus 2015


 
Index Berita
 
 

© 2020 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer